Skip to main content

Cuaca ekstrem di bogor: peluang atau tantangan bagi petani hortikultura?

📅 1 September 2025


Potret buah-buahan hasil kebun PT. Suryo Riset Indonesia

Musim sudah tidak bisa ditebak lagi, terlebih cuaca Bogor

“Musim sudah tidak bisa ditebak lagi, terlebih cuaca Bogor” Kalimat itu sering kita dengar dari para petani di Bogor belakangan ini. Kota yang dikenal sebagai “Kota Hujan” memang memiliki curah hujan tinggi, namun kini polanya semakin sulit diprediksi. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa intensitas hujan ekstrem di wilayah Jawa Barat meningkat dalam 10 tahun terakhir, salah satunya dipengaruhi oleh fenomena El Niño dan La Niña. Perubahan iklim global menyebabkan pagi bisa sangat terik, lalu siang hujan deras, dan sore kembali panas menyengat. Bagi petani hortikultura yang menanam sayuran dan buah-buahan segar, pola cuaca ekstrem ini jelas menjadi tantangan besar.


Bagi petani hortikultura, cuaca ekstrem dapat menyebabkan hasil produksi tidak stabil. Hujan lebat menyebabkan kelembaban tinggi yang memicu serangan jamur dan bakteri, sedangkan panas terik mengakibatkan tanaman mudah layu. Tomat dapat mengalami pecah kulit karena perubahan suhu drastis, cabai rontok bunga nya, sementara daun selada menguning akibat kelembaban berlebih. Tidak heran, FAO/Food and Agriculture Organization (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) memperingatkan bahwa perubahan iklim berimbas pada penurunan hasil pertanian hortikultura hingga 25% apabila tidak ada adaptasi teknologi.


Justru di titik inilah kita melihat adanya peluang. Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, “Perubahan iklim tidak bisa dihentikan, tetapi bisa diantisipasi melalui pemanfaatan inovasi teknologi dan strategi adaptasi.” Pernyataan ini relevan bagi petani hortikultura di Bogor. Alih-alih menyerah pada cuaca, mereka bisa memanfaatkan inovasi untuk bertahan hidup bahkan berkembang lebih baik.



Kegiatan penanaman jagung (Zea mays) di kebun PT. Suryo Riset Indonesia


Salah satu inovasi pertanian datang dari PT. Suryo Riset Indonesia (PT. SRI) yang mendorong penggunaan teknologi mikrobial dalam pertanian. Mikroba baik mampu memperkuat sistem perakaran, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit (resistensi). Melalui teknologi mikrobial, tanaman tidak hanya lebih kuat menghadapi perubahan cuaca, namun juga dapat tetap produktif dalam iklim tidak menentu.


Harus diakui bahwa masih adanya keraguan pada kalangan petani. Sebagian petani khawatir terkait biaya tambahan atau belum yakin terhadap hasil yang akan diperoleh. Di sinilah kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah bisa memberi subsidi atau insentif, perusahaan menyediakan teknologi dengan harga terjangkau, dan akademisi mendampingi petani dengan pelatihan berbasis riset dan inovasi. Dengan demikian tujuan bersama budidaya pertanian dapat memberi keuntungan yang tidak ternilai harganya bagi seluruh pihak berkepentingan.


Penulis: Tim Redaksi PT. SRI

Editor: Divisi Media Sosial PT. SRI

Ingin bekerja sama dengan kami?

Kami selalu terbuka untuk kolaborasi dengan mitra yang memiliki visi dan semangat yang sama dalam menciptakan inovasi dan solusi berkelanjutan. Bersama, kita bisa mewujudkan proyek yang berdampak positif dan memberikan manfaat nyata bagi banyak pihak. Jangan ragu untuk menghubungi kami dan mulai perjalanan kerja sama yang sukses.